Bandara Operasi 24 Jam Saat Libur Nataru

Bandara Operasi 24 Jam Saat Libur Nataru

wirelessimpacts – Seluruh bandara di Indonesia akan beroperasi 24 jam selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Kebijakan ini dibuat untuk mengantisipasi lonjakan penumpang dan potensi keterlambatan penerbangan akibat cuaca ekstrem.

Angkasa Pura Indonesia menetapkan layanan 24 jam mulai 20 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026, menyesuaikan kebutuhan operasional tiap maskapai. Tujuannya adalah mencegah penumpukan penumpang di bandara asal maupun tujuan jika terjadi keterlambatan beruntun.

“Jika nanti terjadi delay, kita harus selesai di hari itu. Jangan karena bandara tutup, pesawat tidak bisa landing, sehingga menumpuk,” ujar Arie Ahsanurrohim, Pgs. Corporate Secretary Angkasa Pura Indonesia, di Bogor, Kamis (11/12/2025). Ia menekankan manajemen traffic delay menjadi fokus utama untuk menghadapi kemungkinan cuaca buruk selama libur Nataru.

Operasional penuh ini juga berlaku untuk seluruh mitra bandara, termasuk layanan transportasi umum dan tenant. Kereta Bandara (KCI) misalnya, akan beroperasi sampai pukul 01.00–02.00 pagi, berbeda dengan hari biasa yang hanya sampai pukul 21.00. Langkah ini diambil berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, saat banyak penumpang yang mendarat dini hari tidak mendapatkan layanan transportasi maupun fasilitas bandara.

Dengan operasional 24 jam, Angkasa Pura berharap pelayanan kepada masyarakat tetap optimal, kepadatan dapat terpecah, dan risiko keterlambatan yang menumpuk bisa diminimalkan. Kebijakan ini juga sejalan dengan prediksi Badan Pusat Statistik, bahwa jumlah penumpang domestik diperkirakan meningkat 15–20 persen selama libur Nataru.

Baca Juga : “Kecantikan Modern: Sehat Mental dan Pikiran Jernih

Bandara Operasi 24 Jam: Kemenhub Siapkan Manajemen Arus Penyeberangan Merak-Bakauheni Saat Nataru 2025/2026

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan kesiapan pengelolaan arus penyeberangan Merak-Bakauheni selama Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Langkah ini penting mengingat jalur ini menjadi rute paling diminati masyarakat pada periode libur panjang.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Aan Suhanan, menekankan perlunya sinergi antarstakeholder untuk memberikan pelayanan yang optimal. “Artinya perlu pengelolaan yang baik dan penuh sinergi antarstakeholder, sehingga pelayanan sesuai harapan masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (10/12/2025).

Dua strategi utama diterapkan untuk menjaga kelancaran dan keselamatan arus penyeberangan. Pertama, pembagian pelabuhan di sisi Jawa dan Sumatera berdasarkan golongan kendaraan. Kedua, penerapan delaying system untuk mengatur ritme kendaraan menuju dermaga.

Empat pelabuhan utama disiapkan di Jawa, yaitu Merak, Ciwandan, BBJ Bojonegara, dan Krakatau Bandar Samudera. Sementara di Sumatera terdapat Bakauheni, Panjang, Wika Beton, dan BBJ Muara Pilu. “Pembagian pelabuhan ini sudah ditetapkan melalui SKB yang wajib dipatuhi petugas dan operator saat operasi Nataru,” jelas Aan.

Delaying system diterapkan terutama saat kondisi cuaca ekstrem, seperti gelombang tinggi atau angin kencang, yang berisiko menunda keberangkatan kapal. Aan menekankan keselamatan menjadi prioritas utama, dengan strategi buffer zone untuk mengurangi potensi bottleneck.

BMKG memprediksi Desember 2025 hingga Januari 2026 menjadi puncak musim hujan, disertai potensi bibit siklon yang dapat memengaruhi arus penyeberangan. Pemerintah berharap, dengan strategi pembagian pelabuhan dan delaying system, keselamatan dan kelancaran perjalanan masyarakat tetap terjaga.

Baca Juga : “China dan Brasil Dirikan Laboratorium Antariksa Bersama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *