Pemasangan Infus: Risiko dan Tantangan Menurut Dokter Anestesi

Pemasangan Infus: Risiko dan Tantangan Menurut Dokter Anestesi

wirelessimpacts – Pemasangan infus sering dianggap sebagai tindakan sederhana oleh pasien. Namun, prosedur ini menyimpan risiko yang perlu dipahami.

Menurut dr. Irvan Setiawan, Dokter Anestesi dan Intensivis di RS Premier Bintaro, pemasangan infus bukan sekadar memasukkan cairan ke tubuh. Proses ini termasuk prosedur akses vaskular yang terbagi menjadi dua jenis: perifer dan sentral.

Akses perifer biasanya dilakukan pada tangan atau lengan bawah. Prosedur ini relatif umum, tetapi tetap membutuhkan ketelitian untuk menghindari komplikasi seperti pembengkakan, infeksi, atau trauma pembuluh darah. Sementara itu, akses sentral memiliki ujung kateter dekat jantung. Prosedur ini lebih kompleks dan biasanya menjadi tanggung jawab dokter anestesi. Akses sentral memungkinkan pemberian obat-obatan pekat atau nutrisi intravena dengan aman.

“Setiap pemasangan infus, terutama akses sentral, harus dilakukan dengan protokol ketat dan pemantauan medis,” ujar dr. Irvan Setiawan. “Kesalahan kecil bisa menimbulkan komplikasi serius, termasuk infeksi atau pembekuan darah.”

Selain risiko medis, pemilihan jenis infus juga mempengaruhi efektivitas terapi. Data dari jurnal Journal of Vascular Access menunjukkan bahwa kesalahan teknik akses vaskular dapat meningkatkan risiko infeksi hingga 30 persen. Oleh karena itu, pemahaman pasien dan keterampilan tenaga medis sama pentingnya.

Dengan perkembangan teknologi, beberapa rumah sakit kini menggunakan panduan ultrasonografi untuk pemasangan infus, meningkatkan akurasi dan keamanan prosedur. Pasien disarankan selalu bertanya tentang jenis akses yang digunakan dan risiko terkait sebelum tindakan dilakukan.

Pemasangan infus memang terlihat sederhana, tetapi melibatkan banyak faktor medis yang kompleks. Dengan informasi dan prosedur tepat, risiko bisa diminimalkan, sehingga terapi intravena menjadi lebih aman dan efektif.

Baca Juga: “Kaviar Vegan: Respons Positif dan Harga Premium Zeroe

Tantangan Pemasangan Infus pada Pasien dengan Akses Vena Sulit (DIVA)

Pemasangan infus tidak selalu mudah, terutama pada pasien dengan kondisi DIVA (Difficult Intravenous Access).

Kondisi DIVA sering ditemui pada pasien kanker yang rutin kemoterapi dan anak-anak yang sulit diam saat tindakan medis. Kedua kelompok ini memiliki risiko tinggi mengalami kegagalan pemasangan infus pertama.

“Pasien kemoterapi biasanya memiliki pembuluh darah keras karena sering ditusuk, dan anak-anak sering menolak saat dipasang infus,” jelas dr. Irvan Setiawan, Dokter Anestesi dan Intensivis di RS Premier Bintaro.

Sebelum tindakan, dokter melakukan penilaian atau scoring untuk menentukan tingkat kesulitan akses vena. Penilaian ini menilai apakah vena terlihat jelas, dapat diraba, atau memerlukan alat bantu seperti ultrasonografi (USG).

“Jika pasien sudah punya riwayat sulit dipasang infus, sebaiknya langsung gunakan USG, jangan coba manual karena risikonya tinggi,” tambah dr. Irvan. Kesalahan bisa fatal karena vena sering dekat arteri dan saraf. Tusukan yang salah bisa menyebabkan perdarahan hebat atau kerusakan saraf, yang menimbulkan kebas bahkan kelumpuhan.

Risiko meningkat jika prosedur dilakukan di area dada. “Jika pleura tertusuk, paru bisa kolaps dan pasien mengalami sesak napas berat,” katanya. Data dari Journal of Infusion Nursing menunjukkan insiden komplikasi serius mencapai 2-5 persen pada kasus DIVA tanpa alat bantu modern.

Dengan teknologi USG dan protokol ketat, risiko komplikasi dapat diminimalkan. Tenaga medis memastikan obat atau cairan intravena tersampaikan dengan aman, efektif, dan nyaman bagi pasien.

Pemasangan infus pada pasien DIVA menuntut keahlian tinggi dan perhatian ekstra. Dengan persiapan dan teknik tepat, prosedur ini tetap aman dan efektif.

Baca Juga: “Riza Chalid Tak Masuk Daftar Tersangka Kasus Minyak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *