wirelessimpacts – Puasa intermiten sering dipilih untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan metabolik. Banyak orang khawatir metode ini dapat menurunkan fokus atau kejernihan berpikir. Studi terbaru menunjukkan bahwa kekhawatiran tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Psikolog David Moreau dari University of Auckland meninjau lebih dari 70 studi eksperimental. Ia menemukan bahwa puasa hingga 12 jam tidak menurunkan kinerja kognitif pada orang dewasa. Peserta yang berpuasa mampu menyelesaikan tugas mental dengan performa yang setara dengan mereka yang tidak berpuasa. Riset lain yang melibatkan 3.500 orang dewasa juga menunjukkan hasil serupa.
Moreau menyatakan bahwa rasa lapar sering dianggap sebagai penyebab gangguan fokus. Namun, data menunjukkan fungsi otak tetap stabil selama puasa jangka pendek. Penurunan kinerja ringan hanya terlihat pada puasa lebih dari 12 jam.
Psikolog klinis Sera Lavelle menjelaskan bahwa perubahan suasana hati dapat muncul saat melakukan puasa intermiten. Kondisi ini dipicu oleh penurunan glukosa darah atau meningkatnya rasa lapar. Perubahan suasana hati dapat memengaruhi konsentrasi pada sebagian orang. Charlotte Markey dari Rutgers University menambahkan bahwa efek emosional ini membutuhkan penelitian lanjutan.
Bukti yang ada menunjukkan bahwa puasa intermiten umumnya aman bagi fungsi kognitif dalam durasi pendek. Peneliti menyarankan evaluasi individual karena respons tubuh dapat berbeda. Studi lanjutan diperlukan untuk melihat dampak jangka panjang, terutama terkait suasana hati dan keseimbangan energi.
Baca Juga: “China Larang Warganya Bepergian ke Jepang, Ini Alasannya“
Efek Metabolik Puasa Intermiten dan Batasan Keamanannya
Puasa intermiten memberikan dampak berbeda pada setiap individu. Beberapa orang merasakan manfaat metabolik, sementara yang lain dapat mengalami ketidaknyamanan fisik atau emosional. Penelitian terbaru menegaskan perlunya pendekatan yang lebih personal.
Puasa memengaruhi cara tubuh mengelola energi. Saat makan teratur, glikogen menjadi sumber energi utama. Ketika berpuasa, cadangan glikogen menurun sehingga tubuh beralih membakar lemak. Proses ini disebut ketosis dan menghasilkan keton sebagai sumber energi alternatif. Mekanisme ini diduga memberi manfaat metabolik dan seluler.
Psikolog David Moreau menyebut bahwa keton dapat mendukung proses perbaikan sel. Ia menjelaskan bahwa keton berpotensi memodulasi sistem hormonal dan meningkatkan peluang umur panjang. Namun, ia menegaskan bahwa puasa tidak cocok untuk semua orang. Individu dengan kondisi medis, berat badan rendah, atau riwayat gangguan makan harus berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai.
Terapis Sera Lavelle mengingatkan bahwa kondisi mental juga memengaruhi kemampuan menjalani puasa. Rasa lapar dapat menimbulkan stres, memicu perubahan suasana hati, atau meningkatkan pikiran tentang makanan. Ia menekankan pentingnya menilai kecocokan metode ini dengan rutinitas harian dan kesehatan emosional.
Respons tubuh terhadap puasa sangat bervariasi. Karena itu, pemilihan pola makan harus mempertimbangkan faktor medis dan psikologis. Penelitian lanjutan dibutuhkan untuk memahami batas aman puasa intermiten dan dampaknya dalam jangka panjang.
Baca Juga : “Rahasia Kulit Glowing Zhao Lusi dengan Pijat Meridian“




Leave a Reply