Menteri PPPA Arifah Fauzi Temui Korban Ponpes Al-Khoziny
wirelessimpacts – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengunjungi para korban tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur. Dalam kunjungan itu, ia menyampaikan rasa prihatin mendalam dan memastikan hak para korban, terutama anak-anak, tetap terpenuhi.
Arifah datang langsung ke RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo untuk menjenguk tujuh korban yang sedang dirawat. Ia juga memberikan bantuan kebutuhan spesifik anak, memastikan perawatan medis terpenuhi, dan menghadirkan dukungan psikososial. Selain itu, ia menemui keluarga korban untuk memberikan penguatan moral.
Baca Juga: “Pertamina Pastikan Kilang Dumai Aman Pasca Kebakaran“
“Kami menyampaikan duka mendalam atas musibah ini. Kami berkomitmen memastikan hak anak tetap terpenuhi,” ujar Arifah.
Dukungan Pemerintah untuk Pemulihan Korban
Dalam pertemuan tersebut, Menteri PPPA menekankan pentingnya koordinasi lintas lembaga. Ia bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Jawa Timur serta Dinas Sosial setempat. Fokus utama koordinasi adalah pemulihan kesehatan fisik, dukungan psikologis, dan keberlanjutan pendidikan santri pasca tragedi.
Arifah menyebut rehabilitasi sosial menjadi prioritas. Pemerintah akan terus memantau proses pemulihan agar korban dan keluarga mendapatkan perlindungan komprehensif. “Kami memastikan pemenuhan hak anak tidak terhenti akibat tragedi ini,” tambahnya.
Kunjungan ini juga menjadi bukti nyata bahwa perlindungan perempuan dan anak tidak hanya sebatas kebijakan, tetapi juga tindakan langsung di lapangan.
Tantangan Identifikasi Korban dan Data Terbaru
Sementara itu, proses identifikasi korban ambruknya Ponpes Al-Khoziny masih berlangsung. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri menghadapi kesulitan karena kondisi jenazah dan minimnya data pembanding. Hingga hari kelima pencarian, total 13 jenazah berhasil ditemukan dan dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya untuk diperiksa.
Kabid DVI Pusdokkes Mabes Polri, Kombes dr. Wahju Hidajati Dwi Palupi, menjelaskan bahwa sebagian besar korban berusia 12–15 tahun. Identifikasi sulit dilakukan melalui sidik jari karena kondisi jenazah rusak dan sebagian besar korban belum memiliki dokumen identitas resmi.
“Ciri fisik seperti tanda lahir atau cacat tubuh minim dilaporkan. Pakaian korban seragam, sehingga sulit menjadi pembeda,” kata Wahju.
Selain sidik jari, identifikasi gigi dan uji DNA menjadi opsi lain. Namun proses ini memerlukan data pembanding dari keluarga, seperti rekam medis gigi atau dokumen identitas.
Kabid Dokkes Polda Jatim, Kombes M. Khusnan Marzuki, menambahkan bahwa RS Bhayangkara menjadi pusat utama posko ante mortem dan post mortem. Seluruh jenazah diperiksa dengan prosedur ketat sebelum diserahkan ke keluarga.
Harapan ke Depan dan Langkah Lanjutan
Tragedi ambruknya Ponpes Al-Khoziny menjadi peringatan penting soal keselamatan bangunan pendidikan berbasis pesantren. Pemerintah daerah dan pusat didorong untuk memperketat standar konstruksi serta melakukan audit keamanan infrastruktur pendidikan.
Menteri PPPA Arifah Fauzi menegaskan bahwa pemantauan pemenuhan hak anak tidak akan berhenti sampai di sini. Ia akan terus berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memastikan rehabilitasi berjalan berkelanjutan.
“Kami akan mengawal agar anak-anak tetap bisa melanjutkan pendidikan, sekaligus pulih dari trauma yang dialami,” tutup Arifah.
Dengan langkah nyata ini, diharapkan pemulihan fisik dan psikologis para santri dapat berjalan lebih cepat. Tragedi ini juga menjadi momentum memperkuat sistem perlindungan anak di Indonesia, baik dari aspek sosial, kesehatan, maupun pendidikan.
Baca Juga: “Cucurella Ingatkan Chelsea Hentikan Kartu Merah Sia-Sia“



Leave a Reply