KEMITRAAN WILMAR DORONG PRODUKTIVITAS PETANI SAWIT LABUHANBATU
wirelessimpacts – Rendahnya produktivitas kelapa sawit di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan pelaku industri. Saat ini, hasil tandan buah segar (TBS) petani masih berkisar 700 kilogram per hektare per tahun—angka yang jauh di bawah standar perusahaan perkebunan besar.
Penyebab utama rendahnya produktivitas ini adalah penggunaan bibit yang belum bersertifikat serta praktik pemupukan yang tidak sesuai standar agronomi. Kondisi ini membuat pertumbuhan tanaman tidak optimal dan menurunkan kualitas buah yang dihasilkan.
Baca Juga: “3 Jenazah Korban Pesantren Ambruk Sidoarjo Teridentifikasi”
Menjawab persoalan ini, PT Perkebunan Milano, bagian dari Wilmar Group, menandatangani nota kesepahaman (MoU) Program Kebun Kemitraan dengan Koperasi Produsen Seira Mandiri Jaya di Desa Sei Rakyat, Labuhanbatu. Melalui program ini, Wilmar berkomitmen mendampingi petani dalam mengelola kebun secara berkelanjutan.
Ketua Koperasi Produsen Seira Mandiri Jaya, Edi Saputra, menyampaikan harapannya agar kemitraan ini bisa meningkatkan hasil panen petani. “Selama ini kami menanam sawit seadanya, tanpa panduan teknis yang benar.
Program kemitraan ini akan dimulai dengan lahan seluas 71 hektare dan diperluas menjadi 115 hektare, melibatkan 38 petani anggota koperasi. Wilmar akan memberikan pembinaan teknis, bantuan akses permodalan, serta jaminan pemasaran hasil panen. Dukungan ini diharapkan mampu memperkuat kesejahteraan petani sekaligus memastikan pasokan bahan baku berkelanjutan bagi industri kelapa sawit nasional.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Labuhanbatu, Agussalim Ritonga, mengapresiasi inisiatif tersebut. Ia menilai program ini tidak hanya menaikkan produktivitas, tetapi juga mendukung kepatuhan terhadap regulasi pembentukan plasma. “Langkah Wilmar menunjukkan bahwa kolaborasi antara perusahaan dan petani bisa menjadi solusi jangka panjang bagi pembangunan ekonomi daerah,” ujarnya.
Head Social Security and License Wilmar, Yudha Adri, menegaskan bahwa masyarakat adalah bagian penting dari keberlanjutan bisnis perusahaan. “Kami berkomitmen memastikan manfaat usaha perkebunan dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat sekitar,” ucap Yudha.
PETANI DESAK PEMERINTAH TINJAU KEBIJAKAN PUNGUTAN SAWIT
Di sisi lain, petani sawit menghadapi tekanan ekonomi yang kian berat akibat kebijakan pajak dan pungutan ekspor sawit (PE) yang dinilai tidak adil. Ketua Umum Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Sabarudin, mendesak Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mengevaluasi kebijakan tersebut.
Menurutnya, pungutan ekspor dan Bea Keluar (BK) telah menekan harga jual TBS di tingkat petani. “Setiap kenaikan 1% pungutan ekspor dapat menurunkan harga TBS sekitar Rp300–Rp500 per kilogram,” ungkap Sabarudin, Jumat (3/10/2025).
Ia menjelaskan bahwa 90% dana pungutan sawit yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) justru digunakan untuk subsidi biodiesel. Akibatnya, insentif lebih banyak dinikmati industri besar, sementara kebutuhan dasar petani seperti pupuk dan perbaikan infrastruktur kebun terabaikan.
SPKS menilai kondisi ini semakin memperburuk daya saing petani, terlebih di tengah kenaikan harga pupuk dan bahan pangan. “Petani sawit kian terjepit. Subsidi biodiesel seharusnya juga dirasakan petani yang menyuplai bahan baku,” tegas Sabarudin.
Dengan 42% lahan sawit nasional dikelola petani—sekitar 7,2 juta hektare—ada lebih dari 14 juta jiwa yang bergantung pada sektor ini. SPKS berharap pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto, meninjau ulang kebijakan pungutan agar dana sawit digunakan lebih adil.
“Dana sawit seharusnya diprioritaskan untuk mendukung sarana produksi, seperti pupuk, jalan kebun, dan transportasi hasil panen,” lanjutnya.
Kebijakan redistribusi dana ini diyakini akan memperkuat ketahanan ekonomi petani sekaligus mendukung keberlanjutan industri sawit nasional. Jika dijalankan dengan transparan, mekanisme tersebut dapat menciptakan keadilan antara korporasi dan petani swadaya—dua pilar utama dalam rantai pasok kelapa sawit Indonesia.
Baca Juga: “Prabowo Gelar Pertemuan Malam dengan Para Menteri”




Leave a Reply