wirelessimpacts.org – Sebanyak 41 rumah di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Peristiwa ini terjadi setelah angin puting beliung melanda wilayah tersebut pada Senin sore.
Camat Rejotangan, Didi Jarot Widodo, mengatakan angin kencang itu menerjang tiga desa, yakni Karangsari, Panjerejo, dan Tugu. “Total ada 41 rumah terdampak, terdiri atas 15 rumah di Desa Karangsari, 22 rumah di Desa Panjerejo, dan empat rumah di Desa Tugu,” ujarnya.
Didi menjelaskan sebagian besar kerusakan terjadi pada bagian atap rumah. Genteng melorot dan asbes terlepas akibat terpaan angin kencang. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Salah seorang warga Karangsari, Aziz Saiful Arifin, menyebut angin puting beliung terjadi sekitar pukul 16.00 WIB dan berlangsung sekitar 10 menit. “Saat itu belum hujan, tiba-tiba angin sangat kencang. Setelah hujan, justru tidak ada kerusakan tambahan,” katanya.
Baca juga: “Sumur Bor di Bangkalan Keluarkan Minyak, Pemkab Selidiki”
Pasca-bencana, pemerintah kecamatan langsung berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung untuk melakukan asesmen dampak kerusakan. Hasil asesmen ini akan digunakan sebagai dasar pengajuan bantuan perbaikan rumah.
Didi menambahkan, sebagian warga terdampak sudah melakukan perbaikan sendiri. “Ini menunjukkan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana, meski pendataan untuk bantuan tetap dilakukan,” ujarnya.
Angin puting beliung merupakan fenomena cuaca ekstrem yang biasanya terjadi karena perbedaan tekanan udara tinggi dan rendah. Kecepatan angin bisa mencapai 70–120 km/jam. Di Jawa Timur, puting beliung sering terjadi pada musim pancaroba, antara musim hujan dan kemarau.
Menurut data BMKG, angin puting beliung di Indonesia rata-rata menimbulkan kerusakan ringan hingga sedang, khususnya pada atap rumah, pohon tumbang, dan jaringan listrik. Fenomena ini sering berlangsung singkat, namun memiliki potensi merusak yang signifikan.
Kerusakan atap rumah dapat mengganggu aktivitas harian dan menimbulkan risiko bagi keselamatan warga. Namun, di Tulungagung, masyarakat menunjukkan respon cepat dengan melakukan perbaikan mandiri.
BPBD Tulungagung juga menyiapkan bantuan darurat berupa material atap dan koordinasi dengan pihak desa. Langkah ini penting agar warga tidak menunda perbaikan dan tetap terlindungi dari cuaca ekstrem berikutnya.
Ahli mitigasi bencana menyarankan warga memperkuat atap rumah, memotong ranting pohon yang dekat rumah, dan menyiapkan jalur evakuasi. Peringatan dini dari BMKG juga harus diikuti, terutama saat tanda-tanda angin kencang muncul.
Pemerintah desa dianjurkan rutin menginformasikan potensi bencana kepada warga melalui sistem sirine atau media sosial. Langkah ini terbukti efektif mengurangi risiko korban saat puting beliung terjadi.
Angin puting beliung di Tulungagung menimbulkan kerusakan pada 41 rumah, namun tidak menimbulkan korban jiwa. Koordinasi cepat pemerintah, BPBD, dan respons mandiri warga menunjukkan ketangguhan masyarakat.
Fenomena ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana cuaca ekstrem. Perbaikan rumah dan mitigasi risiko menjadi prioritas untuk meminimalkan dampak puting beliung di masa mendatang.
Baca juga: “Waspada! Angin Kencang-Puting Beliung Ancam Jatim Sepekan ke Depan”




Leave a Reply